“Kuatkan hati dan tekadmu. …. “
KRINGG!!!!!!!!
Jam weker tepat menunjukkan pukul lima pagi. Verlita Rossa Caroline, atau biasa disapa Ocha terbangun dari mimpinya. Ia bergegas menuju kamar mandi, menyikat gigi, membasuh muka, kemudian mengambil wudhu.
Beberapa menit kemudian, Ocha telah selesai melaksanakan kewajibannya. Setelah itu, ia segera membereskan kamar dan pergi mandi. Ocha memang terbiasa mandi pagi tanpa air hangat karena bagi Ocha hal itu sangat baik untuk kesehatan. (kayak tau kesehatan aja, cha
).
Setelah selesai mandi, ia menuju meja makan. Disana, mama, adik, dan nenek ocha sudah menunggu. (Ayahnya mana, cha?) Ayah Ocha sudah lama meninggal dunia, sejak Ocha berumur 2 bulan. Sekarang, mereka tinggal berempat di rumah nenek ocha di desa.(Ups, maaf ya, cha)
“Pagi, sayang . . . . “ sapa mama hangat seraya menyiapkan makanan.
“Pagi, ma. Wah, mantepp ni sarapannya. Nasi goreng cumi. Asyikkk….” Seru Ocha dan langsung menyambar piring serta menyendok nagomi–singkatan Ocha untuk nasi goreng cumi—kesukaannya. Disusul adik, mama, dan nenek nya yang tertawa ringan melihat tingkah Ocha yang sangat bersemangat saat menyantap nagomi.
“Makan yang banyak, kak. Biar cepet gede. Masa udah kelas 3 SMA, badannya masih kayak anak SMP. Entar adek susul lho. Hihihi . . “ ledek Luna, adik Ocha yang duduk di kelas 2 SD.
“Oke oke… kamu jangan nangis aja Lun kalo entar tiba-tiba nagomi punya kamu lenyap tak bersisa dan mendarat di perut kakak. “ balas Ocha tak mau kalah. Luna jadi manyun, sementara mama dan nenek tertawa melihat dua gadis mungil yang jarang akur itu. (Tapi Ocha tetep sayang Luna,lho)
“Udah udah. Buruan makannya, entar telat lho ke sekolahnya.” Kata mama menengahi.
* * *
Tetttttt!!!!!!
Bel berbunyi tepat 15 menit setelah Ocha tiba di sekolah. pelajaran pertama adalah Pendidikan Agama Islam atau biasa disingkat PAI.
Bapak Tanzani, guru agama di sekolah Ocha adalah salah satu guru favorit Ocha dan teman-temannya. Karena cara mengajar Pak Tanzani yang selalu membuat murid-muridnya tertawa.
“ Selamat Pagi, anak-anak. Hari ini kita akan belajar tentang kewajiban seorang muslim.” Ujarnya membuka pelajaran.
“Ada yang tahu apa saja kewajiban yang harus kita lakukan sebagai seorang muslim?” Tanya beliau kepada murid-muridnya.
“Sholat, pak.” Jawab Ocha.
“Puasa, Pak.” Jawab murid yang lain.
“Iya, itu adalah salah satu, eh maksud Bapak salah dua dari contoh kewajiban seorang muslim.” Canda beliau yang disambut tawa serempak oleh Ocha dan kawan-kawan.
“Ada lagi kewajiban yang sering terlupakan. Terutama untuk perempuan. Yaitu memakai jilbab..”
DEG!
Ocha teringat mimpinya semalam. Dua jam pelajaran dari Pak Tanzani tak satupun melekat di otaknya. Biasanya, Ocha selalu aktif dan banyak bertanya bahkan cerewet di bidang pelajaran yang satu ini. Namun kali ini, ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Pak Tanzani yang melihat hal itu hanya bergumam dalam hati, masa transisi mungkin.
Pukul 13.45 sekolah dibubarkan. Sejak Pak Tanzani memulai pelajaran, hingga saat ini, Ocha tampak lesu.
“Kenapa, cha?” Tanya marta heran. Karena Ocha tak biasa bersikap begini.
“Aku pengen cepat-cepat pulang aja.” Jawab Ocha singkat.
Sesampai di rumah, Ocha meletakkan tasnya begitu saja dan mengempaskan diri di sofa ruang tengah rumahnya. Mama Ocha datang menghampiri karena beliau merasa hari ini anak sulungnya itu bersikap aneh dan tak biasa.
“Ada apa, sayang? Ayo cerita sama mama.” Bujuk Mama Ocha seraya membelai sayang rambut anaknya.
“Di sekolah, Pak Tanzani mengajar tentang kewajiban seorang muslim yang salah satunya adalah memakai jilbab, ma.” Jawab Ocha lesu.
“Lalu, apa yang membuat kamu tak bersemangat seperti ini, sayang?” Tanya mama Ocha lembut.
“Ocha. . . Ocha . . . Ocha ingin memakai jilab, ma.”jawab Ocha terbata-bata.
“Wawww…..bagus itu. Lalu?”
“Ocha takut, Ocha tidak bisa membawa diri, ma.”
“Sayang, dengar mama yaa. Memakai jilbab itu hampir sama dengan naik Haji, apabila kita mampu, kita wajib melaksanakannya. Sekarang mama mau tanya, keinginan Ocha untuk pake jilbab itu apakah memang lahir dari hati Ocha atau Ocha hanya sekedar ikut-ikutan?”
“Ocha sudah lama ingin memakai jilbab, ma. Tapi, Ocha takut sikap dan perilaku Ocha tidak sesuai.”
“Sayang, kesadaran kamu sudah mau memakai jibab itu sudah menjadi tahap awal sikap kamu menjadi orang yang lebih baik. Yang lain bisa menyusul dan berubah sedikit demi sedikit.” Terang mama Oha.
“Tapi, bagaimana dengan baju-baju Ocha yang berlengan pendek, ma? Nanti Ocha nggak bisa lagi pake baju-baju itu.”
“Hmh, sepertinya hal ini yang paling membuat kamu ragu. Tenang, sayang. Ada manset baju sebagai penutup aurat untuk baju kamu yang berlengan pendek. Justru malah menjadi lebih modis dan keren.”
“Bener, ma?” tanya Ocha tertarik.
“Iya,bener. Jadi . . “
“Oke, Ma. Ocha mau pake jilbab. Bismillahirrohmanirrohim, dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Ocha mau pake jilbab.” Kata Ocha dengan wajah berseri.
“Alhamdulillah, amin….mama bangga sama kamu, sayang.” Kata mama Ocha terharu. “Jadi, sekarang kita ke butik yukk.”
“Butik? Buat apa, ma?” tanya ocha bingung.
“Kita beli perlengkapan untuk anak sholehah mama yang cantik.”
“Oke, ma. Let’s go . . . . . . . .”
^_^
Asik…. akhir yang bahagia.
Komentar oleh Asop — September 16, 2011 @ 5:39 pm |
hati senang, hati tenang
Komentar oleh Tiwi — September 17, 2011 @ 8:27 pm |
Tenang senang dan jangan galau
Komentar oleh Asop — September 18, 2011 @ 1:13 pm
good
ini pengalaman pribadi apa cuma fiksi belaka?
Komentar oleh Fonega — September 18, 2011 @ 3:33 am |
terima kasih
pengalaman pribadi yg difiksikan, kak… hehe
terima kasih utk kunjungannya kak
Komentar oleh Tiwi — September 18, 2011 @ 3:40 pm |
Alhamdulillah.. semoga istiqomah yaa..
Komentar oleh ridu — September 18, 2011 @ 10:05 am |
Aminnn……
terima kasih yaa, kak
Komentar oleh Tiwi — September 18, 2011 @ 3:54 pm |
Alhamdulillah…:)
Komentar oleh duniasulis — November 14, 2011 @ 11:19 am |