hallo blogger.. jumpa lagi dengan tiwi dalam acara ……. eng ing eng, SESUKA HATI!!! hehe….. baru update postingan terbaru nih, soalnya jadwal tiwi padat bangett… ciaah, kayak artis aja.. he.. oke, to the point aja, intinya…tiwi kangen sama semua blogger….kangen kangen kangen sangadd…. ^_^
OKE, selamat menikmati cerita sesuka hati karya tiwi ini
Di sebuah rumah terlihat seorang gadis remaja sedang santai-santai membaca komik sambil mendengarkan lagu lewat earphonenya. Namanya Vera. Vera adalah anak dari keluarga yang berkehidupan serba mewah. Segala kebutuhan yang ia inginkan, pasti dapat ia capai. Tapi, ada satu hal yang selalu ia inginkan, namun belum bisa terkabulkan. Suasana rumah yang tenang, damai, dan rukun yang ia idamkan tak pernah terwujud.
Seperti hari ini, orang tua vera terlibat pertengkaran. Awalnya vera berpikir, pertengkaran itu biasa terjadi di dalam kehidupan berumah tangga. Namun, perilaku kedua orang tuanya semakin hari semakin luar binasa. Bagaimana tidak? Setiap keduanya terlibat pertengkaran, semua perabotan di rumah selalu menjadi sasaran mereka dalam perkelahian. Dan vera sudah tidak mau ambil pusing dan ikut campur. Karena jera juga pernah dibentak gara-gara melerai keduanya.
“ Kamu tuh masih kecil, gak tau apa-apa.” Bentak papanya saat Vera menengahi papa dan mama nya yang sedang cekcok.
Vera hanya melengos kesal dengan itu. Ya sudahlah, terserah.
Dan beginilah vera sekarang, santai dengan komik dan musik di telinga walau suasana di ruang tengah seperti angin topan, badai, tsunami, dan semua bencana lainnya. Yaa, sekarang orang tua vera sedang bertengkar hebat. Entah gara-gara apa.
Vera hanya menanggapi itu semua dengan diam, diam yang menyakitkan. Sesungguhnya, sakit yang amat sangat terasa di hatinya. Vera kesal, kenapa kedua orang tuanya tidak bisa akur seperti orang tua teman-temannya.
“ Pokoknya aku minta cerai. Aku udah gak tahan hidup sama laki-laki pemarah seperti kamu. “ mama vera berteriak, yang membuat vera terlonjak dari santai dan musiknya. Ia tak menyangka kalau persoalan kedua orang tuanya seribet ini, sehingga mamanya sampai begitu marah dan minta cerai.
“ Oke, aku ceraikan kamu. Aku juga nggak sudi terlalu lama hidup dengan wanita yang tidak pernah ada waktu untuk keluarga.” Balas sang papa tak mau kalah.
“ Kamu pikir kamu selalu punya waktu untuk keluarga? Haah!”
“ Kamu….”
“ Stop!!!!” vera sudah tak tahan, dan dia memutuskan untuk menengahi kedua orang tuanya yang sudah kalap tersebut.
“ Kalian pernah mikir perasaan vera nggak sih? Kalian pernah nggak berpikir tentang masa depan vera? Kalian sayang nggak sama vera? Ma, pa….vera butuh perhatian kalian. Vera butuh kasih sayang kalian. Vera butuh ketenangan, kerukunan, kedamaian di rumah ini. Kenapa kalian seperti ini? “ semua keluh kesah, kesal, kecewa, sedih, marah, diluapkan Vera. Dia sudah tak tahan memendam semua itu.
“ Coba sebelum kalian bertengkar, melempar semua perabotan di rumah, kalian mikir dulu. Mikir, bagaimana awalnya mama sama papa bisa saling suka, saling sayang? Mikir bagaimana lelahnya kalian untuk membeli semua perabotan yang ada di rumah ini? kebersamaan 16 tahun bukan waktu yang singkat pa, ma. Namun kalian akan menghancurkan itu semua dalam sekejap. Atau sebelum kalian mau bertengkar, kalian sholat dulu terus baru lanjutin marah dan bertengkarnya. Kalian bilang vera gak boleh ikut campur, karena vera masih kecil. Namun, sebenarnya kalian membutuhkan anak kecil untuk menengahi kalian. Karena orang dewasa terlalu sering menggunakan emosi daripada pikiran.“ setelah itu, vera ngos-ngosan namun lega, karena beban itu telah ia lepaskan. Penat dihatinya sedikit berkurang.
“ vera………..maafin mama,nak. Maafin mama….mama nggak tau kamu selama ini tersiksa karena ulah mama sama papa. “
“ iya, nak. Maafin papa juga. Sebagai orang tua, papa terlalu egois, maafin papa, nak. “
Dan keluarga itu pun berpelukan. Air mata menetes beriringan dari kedua mata vera. Namun, bukan tangis kekesalan yang ia keluarkan saat mendengar orang tua nya bertengkar. Ini adalah tangis yang bahagia, tangis karena keinginannya telah tercapai. Kedamaian, kerukunan, dan ketenangan itu telah membentang di depan mata. Semoga kejadian ini menjadi pelajaran untuk orang tua lebih menghargai pendapat anak, batin Vera.
Kebahagian bukan dari harta semata tapi dari sebuah keharmonisan…terima kasih ceritanya
Komentar oleh riez — Juli 1, 2011 @ 4:09 pm |
sungguh bijak . .
terima ksh jg utk kunjungannya, kak
Komentar oleh Tiwi — Juli 2, 2011 @ 8:34 pm |
cerita yang sangat penuh pembelajaran bagi orangtua nih.
Komentar oleh ysalma — Juli 1, 2011 @ 6:53 pm |
hehehe.. mudah mudahan, kak
trimaksh utk kunjungannya
Komentar oleh Tiwi — Juli 2, 2011 @ 8:36 pm |
Alamaaak, akhirnya update lagi.
Komentar oleh Asop — Juli 2, 2011 @ 1:12 pm |
hehehehehehe. . . . ..
udh byk yg kangen, kak . .
*GR mode on
Komentar oleh Tiwi — Juli 2, 2011 @ 8:39 pm |
Mungkin itu benar.
Komentar oleh Asop — Juli 10, 2011 @ 10:40 am
happy ending…..
Komentar oleh Mabruri Sirampog — Juli 2, 2011 @ 3:55 pm |
horeeyyyyy
Komentar oleh Tiwi — Juli 3, 2011 @ 1:22 pm |
Saleum
Kisah nyata ya ?? saya senang juga akhirnya omongan sianak diperhatikan oleh orang tua.
ohya ini kunjungan pertama saya disini, salam kenal ya
saleum dmilano
Komentar oleh dmilano — Juli 3, 2011 @ 3:13 pm |
saleum balik
mm….dibilang kisah nyata, tapi ada yg difiksiin, hehehe
salam kenal balik
terima ksh utk kunjungannya
Komentar oleh Tiwi — Juli 3, 2011 @ 5:18 pm |
Cerita untuk pembelajaran untuk para orang tua dalam bersikap.
Sukses selalu.
Salam
Ejawantah’s Blog
Komentar oleh ejawantahblog — Juli 3, 2011 @ 7:10 pm |
terima kasih, kak…
salam balik
Komentar oleh Tiwi — Juli 4, 2011 @ 2:47 pm |
selalu ada hikmah dibalik kisah…
salam dania
Komentar oleh dhila13 — Juli 5, 2011 @ 10:13 am |
yupzz
salam dhila
Komentar oleh Tiwi — Juli 5, 2011 @ 1:16 pm |
intip sana intip sini.. saia yang amat awam ini jadi numpang parkir d cerpen ini… wlaopun cerpennya seperti curhat(seolah2),,, pi mgkin si tiwi lbih menonjolkan makna bahwa keegoisan orank tua kadang kala(lbih sering kayaknya) menyakitkan bagi anak2ny….dan pendapat anak2 lbih sering diindahkan karna egoisme masing2…
pi ending cerita ini… pndapat si vera sbagai seorang anak cukup mampu meredam amukan api diantara kedua orang tua nya… yahh bagusss lahh kalo bgituu… heheheh…
moga cerpennya bih bgus lagi oceee…
Komentar oleh nunanoo — Juli 5, 2011 @ 3:27 pm |
monggo…hehehe
yaa….dikitt, emang ada curhatnya..
terima kasih, kak . .
amin…thanks
terima ksh jg utk kunjungannya
Komentar oleh Tiwi — Juli 6, 2011 @ 8:30 pm |
woowww menyentuh..luarbiasa ceritanya..lanjutttt…hehee
Komentar oleh dede6699 — Juli 7, 2011 @ 5:52 pm |
terima kasih wohohohoho . . .
lanjuutttttttttttttttt…
hehehehe
terima kasih kunjungannya
Komentar oleh Tiwi — September 10, 2011 @ 4:08 pm |
seep…
vera jangan sedih lagi ya,,,:D
Komentar oleh duniasulis — Juli 12, 2011 @ 12:39 pm |
seep..
vera jangan sedih lagi ya,,,:D
Komentar oleh duniasulis — Juli 12, 2011 @ 12:39 pm |
vera nggak sedih,koq
vera cuma kurang bahagia aja….
hihihihi
Komentar oleh Tiwi — September 10, 2011 @ 4:15 pm |
dun be sad darling :*
Komentar oleh @nonaedda — Agustus 2, 2011 @ 10:17 pm |
: * i dun sad, i just jus….
Komentar oleh Tiwi — September 10, 2011 @ 4:17 pm |
cerita bagus. .
Mantap kak,salam kenal(salaman)
Komentar oleh Erit Kantoni — Agustus 2, 2011 @ 11:27 pm |
terima kasih, adekk
salam kenal balik (mengulurkan tangan)
Komentar oleh Tiwi — September 10, 2011 @ 4:20 pm |
dan keluarga itu pun berpelukan….
hmmm…. betapa kebahagiaan keluarga mesti diupayakan
secara terus-menerus
Komentar oleh Akhmad Muhaimin Azzet — Agustus 15, 2011 @ 12:01 pm |
betul tuh, uncle…
krn smw akan saling mendukung, mengerti satu sama lain
Komentar oleh Tiwi — September 10, 2011 @ 4:26 pm |